Langsung ke konten utama

Tips Ketika Pertama Kali Berkunjung ke Sebuah Kafe

Kurasa semua orang sepakat, bahwa tiap sudut wilayah baik di kota maupun desa, menjamur kafe-kafe cantik, berdesain kontemporer, modern atau minimalis, ada yang mengusung konsep tradisional, juga ada yang tetap mempertahankan gaya arsitektur zaman kolonial. Dulu kita menganggap, cuma di kota yang pantas dibangun tempat-tempat nongkrong semacam itu. Anggapan itu sejalan dengan penilaian, kalau orang kota sibuk bekerja, daripada terjebak macet dan lelah di jalan, lebih baik makan terlebih dahulu, pulang-pulang dalam kondisi perut kenyang. 

Dulu, orang datang ke restoran atau warung memang untuk membeli makanan. Ada juga yang makan di tempat jualannya, selesai makan langsung pulang, atau beli untuk dibawa pulang, makannya di rumah. Yang namanya duduk berlama-lama rasanya jarang sekali, palingan makan bersama kawan, ngobrol sebentar, tidak lama kemudian, keluar, segan berlama-lama.

Sekarang kedai atau tempat minum, yang lebih akrab di telinga dengan sebutan kafe, didesain agar pengunjungnya betah berlama-lama duduk di sana. Pengunjung dimanjakan dengan wifi yang lancar jaya serta alunan musik, meskipun yang datang cuma memesan segelas minuman dan camilan kecil. Suasana kafe dibikin seasyik dan semenarik mungkin, banyak yang mengusung konsep terbuka, menyatu dengan alam. Ada arena bermain, sudut foto yang instagramable, rak buku, bantal-bantal besar untuk bersantai layaknya di rumah sendiri. Khusus untuk musik, tidak lagi diperdengarkan melalui tape recorder, pengunjung disuguhi musik yang dimainkan secara langsung. Penonton bisa berinteraksi dan turut bernyanyi di atas panggung. Dulu kafe-kafe model begini dibikin tertutup, bahkan kedap suara. Orang dulu malah menduga, yang datang ke kafe (bar) sudah pasti minum-minuman keras, karena saking tertutupnya.
Kafe-kafe sekarang bisa dikunjungi bersama keluarga tanpa batasan usia. Menu makanan juga macam-macam, mulai dari masakan asing sampai masakan rumahan. Minuman tidak melulu jus buah atau minuman panas. Semakin ke mari, kopi justru tetap menjadi minuman paforit dengan segala variasi penyajiannya. Anak-anak muda sekarang tidak lagi sungkan memesan kopi, berbeda dengan dulu, kopi identik dengan orang tua khususnya lelaki saja. Soal harga kopi di sebuah kafe, jika peraciknya barista betulan, dengan teknik penyajian yang ribet, apalagi kalau biji kopinya digiling ketika ada yang memesan, sudah pasti harganya lebih mahal. Kalau kopi sachetan tinggal seduh, harganya tentu jauh lebih murah dan sangat ramah di kantong. Ada rupa ada hargalah, istilahnya. 

Banyak orang memanfaatkan kafe untuk melakukan pertemuan, sembari bersantai menikmati makanan dan minuman, kita bisa ngobrol membahas suatu masalah. Dari yang remeh temeh sampai urusan berat, pemandangan tersebut sudah lazim ditemui di sebuah kafe. Alasan yang paling utama, apalagi, kalau bukan soal kepraktisan? Kita tidak bingung memikirkan menu, tidak lagi kelelahan memasak, rumah juga tidak berantakan. Acara arisan, bertemu klien, belajar bersama, reuni, bahkan rapat warga pun bisa. Soal pembayaran, tinggal dibicarakan di grup-grup WA bagaimana teknisnya. Mau patungan, bayar masing-masing atau pemilik hajatan yang menanggung.
Khusus keluarga yang memiliki anak kecil, atau arisan keluarga, pilihlah kafe yang memiliki arena bermain anak, agar keriuhan yang ditimbulkan tidak mengganggu pengunjung lainnya. Memilih menggelar acara di kafe termasuk pilihan yang menyenangkan, karena kebersamaan bisa diabadikan lewat foto-foto cantik dengan view yang indah. 

Salah satu alasan mengapa arisan ibu-ibu banyak digelar di kafe, ya itu tadi, penataan eksterior maupun interior kafe slsangat instagramable. Ibu-ibu kekinian menggemari berfoto bersama untuk mengenang pertemuan dengan teman-teman di komunitasnya. Sayangnya, banyak sekali kafe yang mengabaikan rasa dari makanannya. Nama dan gambar di daftar menu memang mengundang selera untuk dicoba, namun, setelah mencoba, tidak sampai setengah porsi rasanya ingin disudahi. Kalau gak ingat mubazir berakibat dosa, juga sayang duitnya, mungkin tidak sampai sendokan ke tiga sudah menyerah, karena lidah memang nggak bisa dibohongi.
Kasus di atas bukan sekali dua kali terjadi. Orang-orang yang awalnya kepincut dengan desainnya, ketika sudah tahu rasa makanannya, tidak berniat datang kembali. Kalaupun datang, mungkin hanya memesan minuman atau makanan ringannya saja, sesudah itu foto-foto. Tetapi, seberapa banyak sih orang menyukai berfoto di tempat yang sama hingga berkali-kali, ya lucu juga kalau koleksi fotonya pemandangannya itu-itu saja, kan? 

TIPS MENCICIPI MAKANAN PERTAMA KALI DI SUATU KAFE 

Kusarankan, kalau masih pertama kali datang ke suatu kafe, sebaiknya pesan dalam porsi sedikit dulu, misalnya, pesan satu atau dua jenis makanan dulu, cicipi rasanya dengan alat makan masing-masing, jika semua rasanya enak, dijamin makanan lainnya juga layak dipesan. Apabila kurang pas di lidah, sebaiknya pesan jenis makanan yang standar saja, misalnya kentang goreng, pisang goreng, atau camilan lainnya. Kalau minuman kayaknya relatif aman untuk dipesan sesuai gambar..πŸ˜ƒ 

Peringatan bagi pengusaha kafe, hati-hati kalau yang berkunjung rombongan ibu-ibu. Komen mereka biasanya tanpa basa-basi, bringas garis keras, gak ada istilah segan, langsung protes kalau makanan keasinan, tawar, (kalau kemanisan mereka juga gak sungkan minta tambah air πŸ˜…) atau lama disuguhkan..🀭. Sebaliknya, kalau mereka puas dengan pelayanan di suatu tempat, dijamin memperoleh promosi gratis. Mereka dengan senang hati bilang ke teman atau siapa saja yang sedang mencari rekomendasi tempat makan yang enak. Testimoni ibu-ibu mengenai rasa biasanya tidak diragukan. 

Sebetulnya, orang-orang mengunjungi tempat makan, tujuan utamanya adalah rasa dari makanan tersebut. Tidak peduli bila tempatnya sangat sederhana, demi bisa mendapatkan porsi yang dipesan, kita rela mengantri dan menyantapnya secara lesehan, bahkan duduk nyempil di mana saja pun oke. 

Pernah dengar Warung Kopi Klotok di Sleman Jogjakarta, kan? Pemiliknya tetap mempertahankan bentuk rumah aslinya untuk menerima pengunjung. Warung makan tersebut tidak direnovasi mengikuti zaman, hebatnya, tidak pernah sepi pelanggan. Sekilas orang menilai harga makanan di sana murah, tetapi sebetulnya setara dengan kafe kekinian yang modern-modern itu. Padahal, orang yang datang ke sana tidak bisa berleha-leha lama, karena yang mengantri cukup banyak. Kerennya lagi, mereka juga sudah menggunakan pembayaran nontunai sejak lama, loh. Kenapa pengunjung datang berulang ke sana, rela mengantri, padahal harganya lumayan merogoh kantong? Jawabannya tidak lain adalah, rasa makanannya yang enak. 

TIPS  MENYIASATI JIKA TULISAN DI BUKU MENU DALAM BAHASA ASING 

 Bagaimana perasaanmu, kalau datang ke kafe modern dengan perut lapar, mau pesan makanan ragu, karena tulisannya dalam bahasa asing? Kujamin pasti bingung. Aneh ya, mereka menuliskan dalam bahasa asing, padahal tak satupun pengunjung kafe itu orang asing, dan lucunya, makanan tersebut sudah biasa kita temui di tempat umum. Pingin ketawa atau sedih kalau gini, Wei? 

Nah, tips dariku, jangan ragu untuk memesan teh manis panas/dingin saja. Untuk makanannya, lihat gambar di buku menu, pilih yang kau kenali, lalu pesan seporsi dulu. Segera cicipi, jika rasanya oke, segera pesan yang lain agar makanmu tidak terputus dengan menunggu. Tips di atas kumaksudkan supaya kita tidak berselisih dengan pramusajinya. Kadang pengunjung yang emosian sering marah-marah kalau merasa kesal terhadap pelayanan mereka. Padahal kan, mereka cuma anter makanan yang kita pesan? Salahin chef atau pemilik kafenya kalau gini, Wei?πŸ˜„
Beli durian di kedai Ucok 
Beli sebuah pastilah kurang 
Jangan marah kalau tidak cocok 
Tandai aja dan jangan kembali datang

Komentar

  1. Sebagai pemula di dunia percafean jadi insight baru buat saya. Jadi ingat saat bareng ke cafe dengan pasukan emak-emak dan pasukan anak-anak. Asli bikin rame banget dan membuat suasana tidak kondusif. Tips nya membantu sekali

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha..aku paham suasananya, pasti riweh dan nikin sedikit deg-degan, maklumlah anak-anak kan gak bisa antengπŸ€—

      Hapus
  2. Makasih mb. Lama saya enggka ke cafe sejak pandemi. 😁

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe...iya kami juga mulai pas level 2 ini aja, kok.

      Hapus
  3. Instagramble emang kek jadi daya tarik sih mbak, buat mempercantik feed... πŸ˜‚

    BalasHapus
  4. Pantunnya kreatif banget hahahaha. Btw tipsnya emang relate juga sih sama aku, cuma aku juga biasanya cek dari rekomendasi orang lain di google review, atau sosmed. Mereka sering ngasih ulasan jujur, dan yes cafe zaman sekarang tuh wajib banget instagram-able. Biar asyik ngumpul sambil foto2 estetik ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pantun..ummm...khas Medanlah🀣🀣

      Hapus
  5. nice sharing, mb. aku pun kalo mau meetup sama temen nyari rekomendasi dulu di mbah gugel. selain liat tempat dan lokasi, juga liat menunya. apalagi punya anak, carinya yg kids friendly :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya dung, jadi bisa nyambi momong anakπŸ˜…

      Hapus
  6. Reviewnya detail dan lengkap πŸ˜€ mulai A sampe Z adaaa, bonus pantun yg mantul pula di endingnya, berasa auto dapat reminder : "Jangan marah kalau tidak cocok, tandai aja dan jangan kembali datang" 😁😁 😁. Yess, sesimpel itu sebenernya ya, bila tidak ada kecocokan rasa, sila pindah ke lain hati...eh kafe maksudnya 😁

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihihi...gitu deh, kasihan kalau protes-protes langsung, mereka kan berdagang makanan...πŸ™

      Hapus
  7. Baca-baca tips ke kafe pertama kali, mengingatkan si perut yg keroncongan ngajak ke kafe. Hihi... πŸ˜†

    BalasHapus
  8. Dari aku yang jarang banget ngafe: cek temen pernah kesitu nggak.. Atau baca rekomendasi dulu sebelum ke situ... Biar ga ngerasa rugi wkwk

    BalasHapus
  9. Waaah ternyata panjang sejarah kafe. Anak rumahan yang cuma keluar di tempat itu lagi itu lagi nyimak ah.

    BalasHapus
  10. bener banget mba, sebagus apapun tempatnya kalo makanan nya gak pas di lidah, biasanya gak balik lagi... ini yg bikin jarang nyicip makanan di tempat lain 😁

    BalasHapus
  11. Trims mbk tipsnya sangat menarik sekali apalagi kalau belum pernah ke cafe

    BalasHapus
  12. Saya ni yang jarang banget ngecafe jadi ada ilmu baru, seru ya emak-emak garis keras bisa nyap-nyap kalau ga sesuai selera lidah mereka ha ha. Keren mba tulisannya

    BalasHapus
  13. Kalau mau ngafe suka cari info2 dulu biar enak

    BalasHapus
  14. Sejak pandemi belum pernah ngafe lagi nih mba.

    Boleh juga ini tipsnya, hehe

    BalasHapus
  15. mantep tipsnya, saya juga kadang suka penasaran pengen coba cafe baru tapi takut gak cocok di lidah padahal punya nafsu makan tinggi

    nanti tips-tipsnya mau di coba ah supaya dompet gak jebol kalo nyoba cafe baru

    BalasHapus
  16. Terima kasih tipsnya mam, jd keinget pertama kali diajak ke cafe sama suami. Bingung pol.

    Iya sekarang di desa pun ada cafe.. Menjamur banget.

    BalasHapus
  17. Makasih banyak tipsnya mbak. Bener banget kadang ada kafe yang tempatnya tuh instragamable, nyaman, wifi kenceng ehh tapi pas pesen makanannya, rasanya jauh dari kata enak. Kafe-kafe kaya gini emang jualan "tempat" aja biasanya..padahal kadang kita datang karena pengin cobain menunya.

    BalasHapus
  18. Intinya harus diicip dulu ya...jangan pesen langsung dalam porsi besar. Terimakasih tipsnya

    BalasHapus
  19. Terims kasih sharing-nya, Mbak. Terutama foto-fotonya. 🀭 Bisa buat rekomendasi pose sama besties.

    BalasHapus
  20. Wah kerenbanget nih idenya mba hihi daripada salah pesen makan kan ya

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tips Santai Saat Menyetrika

                     Gambar diambil dari Pixabay Kalau dibikin polling-pollingan, ternyata sangat jarang yang suka menyetrika dibanding yang suka. Rata-rata lebih milih cuci baju, cuci piring, beberes rumah, masak.  Menggosok (istilah Medan) pakaian jadi list terakhir, tunggu menggunung batu dikerjakan. Menyetrika  memang jarang disukai, bikin pinggang dan leher pegel, ngantuk, bosan, gerah dan kadang pingin marah-marah.. πŸ˜… (salam hormat bagi ibu-ibu pejuang loundry πŸ™πŸ»πŸ™πŸ» ). Saat menyetrika, biasanya nggak bisa disambi mengerjakan pekerjaan lain. Mata nggak bisa lengah, fokus satu titik, meleng sikit, baju angus. Jadi bisa dibayangkan kalok pas nyetrika mata kita ngantuk,  selain pakaian terancam hangus, keselamatan badan juga ikut terancam.  Kayak di kota-kota lain di Indonesia, di Medan juga menjamur tempat ngeloundry. Harganya sangat bersaing, tapi kalau dibanding di Jawa (Semarang dan Jogja, kebetulan anakku kuliah di sana), masih terhitung lebih mahal di sini. Di sa

Menjawab Pertanyaan Anak Seputar Seks

Misalnya anak Ibuk yang  baru berumur empat atau lima tahunan, pulang dari maen ke rumah tetangga, tiba-tiba bertanya,"Mak, seks itu apa sih?" Aduuh..kayak ditabok gak tuh, Buk? Aku yakin, telinga, kepala dan dada, rasanya kayak mengeluarkan hawa panas. Lalu pikiran langsung bergentayangan,"Ih, tadi denger apa anakku di sana, ya?  Nengok apa dia di sana? Ngapain aja tetangga tadi?" Aduaduadu..panik! Nggak bisa disalahin juga sih reaksi terkejut seperti itu. Budaya orang zaman dulu,   anak tidak boleh bicara urusannya 'orang besar'. Belum-belum langsung dibilang 'pantang', diancam mulutnya mau dicabein, ngomongin itu dianggap tabu, akibatnya, anak bahkan tidak tahu menyebut bagian tubuh mereka sendiri. Padahal bisa saja, anak baru mendengar orang-orang dewasa ngobrol, kalimat yang diucapkan memancing kehebohan, karena menimbulkan kasak-kusuk, tertawa cekikikan, akibatnya mengundang rasa ingin tahu si anak. Pahamlah kita, ya, kek mana kalau orang d