Langsung ke konten utama

Perkenalan

 



 

Jalan-jalan ke pasar lima

Singgah sebentar membeli buah

Blog berisi tips dari Mama untuk pembaca

Semoga bermanfaat walau tidak ‘wah’

 

Jadi sebetulnya aku bikin blog bukan pertama kali. Sudah entah ke berapa kali pokoknya. Namanya pun ganti-ganti, dari yang isinya remeh temeh sampai yang serius. Bahkan, sudah ada yang berdomain pula.

Gara-garanya waktu itu, aku pernah mau fokus nulis cerita fiksi saja,  sok-sok anlah ceritanya, akhirnya blog kutinggalkan. Aku mulai kirim-kirim cerpen lagi ke media, nggak ada yang dimuat. Terus muncul keinginan nulis novel, tapi rasanya aku nggak bisa mengkhayal sepanjang itu, bercerita panjang berunut-runut gitu bukan keahlianku ternyata. Susahnyaa.. ya ampuun. Menurutku ceritanya garing, muter-muter, mbulet..

Dulu..aku pernah memenangi event menulis cerita pendek, tulisanku juga pernah dimuat di majalah wanita. Dari menulis  cerpen pernah menginap gratis ke Jakarta, karena diundang untuk menjemput hadiah. Cerita anak pun sudah beberapa kali dimuat di majalah anak-anak ternama, Bobo.

Dengan modal itu aku coba menulis panjang ratusan halaman, tapi ternyata, selalu mentok, ide ngeblok, ujung-ujungnya kutinggal.

Puncaknya, sewaktu ikut-ikutan nulis di situs baca  online,  karena menurutku situs baru ini  beda sama yang lain. Mereka masih merintis, asalnya dari penerbit yang banyak menerbitkan buku bernuansa agamis, yang otomatis menolak cerita esek-esek, makanya aku ikut, menurutku loh, ya.

Dasar akunya yang nggak mutu, mood lagi-lagi bubar, cuma menghasilkan satu novelet. Sampai sekarang masih kusimpan aplikasinya, nggak tega juga menghapusnya, setidaknya aku pernah menulis di situ, walau cuma satu.

Terus, kenapa aku bikin blog lagi?

Suatu hari, anak sulungku mengirimkan sebuah tautan, isinya tentang seseorang yang bisa menyalurkan hobinya dari rumah dengan cara menulis. Objeknya seorang ibu rumah tangga, dari Medan juga. Lalu anakku bertanya,”Mama masih nulis, kan?”

“Mama usahakan, Nak.” jawabku dalam hati, dengan perasaan sedikit sedih.

Buatku, merasa tidak bersemangat menulis sebetulnya sangat menyedihkan. Ada yang hampa gitu. Kadi, punya ide menulis, walau cuma status di fb, sudah bikin semangatku muncul sepanjang hari.

Salah satu sebab aku kehilangan semangat menulis, mungkin karena pandemi. Terus terang, mau menulis perasaan senang, rasanya takut ada yang bilang tidak empati. Mau menulis sedih, takut mempengaruhi suasana hati kawan-kawan yang membaca. Akhirnya aku memilih menjadi pembaca. Membaca kisah nyata mereka bergelut dengan pandemi. Ada yang berjuang sembuh, terlilit masalah ekonomi, dan kejenuhan karena keterbatasan aktifitas. Ah, entahlah.

Apa aku gak punya masalah? Ya punyalaaah. Tapi aku belum pernah menuliskan kesedihan di media sosial. Jadi kalau aku punya problem, aku pilih curhat sama suami.

Aku menulis kata sambutan di blog baruku ini tanggal 5 Oktober 2021. Saat ini kasus covid sudah menurun. Masih diberlakukan PPKM , sih, tetapi levelnya sudah semakin mengecil.

Rumah sakit yang merawat penderita covid juga sudah kosong. Aku mulai  berani hadir ke acara, tapi, ya, masih tetap prokes ketat.

Semoga pandemi cepat selesai, berubah status kayak endemi, obatnya sudah bisa dibeli layaknya flu. Biar anak-anak bisa sekolah, bertemu guru dan kawan-kawannya.

Nanti aku bisa ngopi lagi sama Genk Seroja. Bisa makan soto buatan Emak Mertua, rame-rame sama adik-adik ipar. Bisa road trip sama sahabat sehati lagi, dan seterusnya.

Eh, enaknya aku panggil pembacaku apa, ya? Ladies, gaes, Mak, atau apa? Orang Medan biasa sebut ‘wei’, bukan tak sopan, tapi saking santai dan akrabnya.

Di blog ini aku nggak punya obsesi macam-macam. Satu macam saja, bisa menjaga mood nulis secara teratur. Kalau kata anakku,  berpikir runut, rajin membaca dan menulis, bisa mencegah kepikunan dini. Sulungku itu rajin kali ngecek kesehatan mental mamanya memang. Nggak boleh stress, nggak boleh marah-marah, nggak boleh capek-capek..😍

Di sini bahasa dan tulisanku nggak baku, sengaja kutulis macam sedang mengobrol ringan dengan dialek Medan. Tapi kalau di sana-sini masih sering kaku, ya, mohon maaf, ya. Terus terang, agak susah nulis nggak pakai aturan KBBI (hahaha..maaf, sok paten sikit).

Udahlah, ya, perkenalan apa cocok panjang-panjang? (Cocok ajalah, kau yang malas bikin, bilaaang..🤭)

Eh lupa, namaku Sri Mulyani, status menikah dengan dua orang anak. Nggak punya karir di luar rumah, bukan #antiperempuankarir, malah salut sama mereka. Punya 1 ekor kucing kampung, namanya Popoy..😄

Kalau di dilisanku nanti ada yang nggak cocok, komplain aja, aku nggak marah, malah senang bisa diperbaiki infonya.

 

Pulang jalan-jalan pegal kakiku

Tapi enaknya, kenyang perutku

Sekian perkenalan singkat dariku

Yok  Cerita Yok..ikuti aku..🤗🙏🏻



                                    Kelurgaku, foto lama..

 

 


 

 

 

 

 

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tips Ketika Pertama Kali Berkunjung ke Sebuah Kafe

Kurasa semua orang sepakat, bahwa tiap sudut wilayah baik di kota maupun desa, menjamur kafe-kafe cantik, berdesain kontemporer, modern atau minimalis, ada yang mengusung konsep tradisional, juga ada yang tetap mempertahankan gaya arsitektur zaman kolonial. Dulu kita menganggap, cuma di kota yang pantas dibangun tempat-tempat nongkrong semacam itu. Anggapan itu sejalan dengan penilaian, kalau orang kota sibuk bekerja, daripada terjebak macet dan lelah di jalan, lebih baik makan terlebih dahulu, pulang-pulang dalam kondisi perut kenyang.  Dulu, orang datang ke restoran atau warung memang untuk membeli makanan. Ada juga yang makan di tempat jualannya, selesai makan langsung pulang, atau beli untuk dibawa pulang, makannya di rumah. Yang namanya duduk berlama-lama rasanya jarang sekali, palingan makan bersama kawan, ngobrol sebentar, tidak lama kemudian, keluar, segan berlama-lama. Sekarang kedai atau tempat minum, yang lebih akrab di telinga dengan sebutan kafe, didesain agar pengu

Tips Santai Saat Menyetrika

                     Gambar diambil dari Pixabay Kalau dibikin polling-pollingan, ternyata sangat jarang yang suka menyetrika dibanding yang suka. Rata-rata lebih milih cuci baju, cuci piring, beberes rumah, masak.  Menggosok (istilah Medan) pakaian jadi list terakhir, tunggu menggunung batu dikerjakan. Menyetrika  memang jarang disukai, bikin pinggang dan leher pegel, ngantuk, bosan, gerah dan kadang pingin marah-marah.. 😅 (salam hormat bagi ibu-ibu pejuang loundry 🙏🏻🙏🏻 ). Saat menyetrika, biasanya nggak bisa disambi mengerjakan pekerjaan lain. Mata nggak bisa lengah, fokus satu titik, meleng sikit, baju angus. Jadi bisa dibayangkan kalok pas nyetrika mata kita ngantuk,  selain pakaian terancam hangus, keselamatan badan juga ikut terancam.  Kayak di kota-kota lain di Indonesia, di Medan juga menjamur tempat ngeloundry. Harganya sangat bersaing, tapi kalau dibanding di Jawa (Semarang dan Jogja, kebetulan anakku kuliah di sana), masih terhitung lebih mahal di sini. Di sa

Menjawab Pertanyaan Anak Seputar Seks

Misalnya anak Ibuk yang  baru berumur empat atau lima tahunan, pulang dari maen ke rumah tetangga, tiba-tiba bertanya,"Mak, seks itu apa sih?" Aduuh..kayak ditabok gak tuh, Buk? Aku yakin, telinga, kepala dan dada, rasanya kayak mengeluarkan hawa panas. Lalu pikiran langsung bergentayangan,"Ih, tadi denger apa anakku di sana, ya?  Nengok apa dia di sana? Ngapain aja tetangga tadi?" Aduaduadu..panik! Nggak bisa disalahin juga sih reaksi terkejut seperti itu. Budaya orang zaman dulu,   anak tidak boleh bicara urusannya 'orang besar'. Belum-belum langsung dibilang 'pantang', diancam mulutnya mau dicabein, ngomongin itu dianggap tabu, akibatnya, anak bahkan tidak tahu menyebut bagian tubuh mereka sendiri. Padahal bisa saja, anak baru mendengar orang-orang dewasa ngobrol, kalimat yang diucapkan memancing kehebohan, karena menimbulkan kasak-kusuk, tertawa cekikikan, akibatnya mengundang rasa ingin tahu si anak. Pahamlah kita, ya, kek mana kalau orang d